Featured :

[getBreaking results="4" label="Aplikasi"]

Ekonomi Pembangunan: Pendapatan Nasional dan Pendapatan Perkapita

Materi Kuliah Pengantar Ekonomi Pembangunan - Roliyan.com

A. Pengertian Pendapatan nasional

Pendapatan nasional adalah ukuran nilai output berupa barang dan jasa yang dihasilkan suatu Negara dalam periode tertentu atau jumlah seluruh pendapatan yang diterima oleh masyarakat dalam suatu Negara dalam satu tahun. Pendapatan nasional memiliki peran yang sangat vital bagi sebuah Negara, karena pendapatan nasional merupakan salah satu tolak ukur keberhasilan perekonomian suatu Negara. Dengan pendapatan nasional, akan terlihat tingkat kemakmuran suatu Negara, semakin tinggi pendapatan nasional suatu Negara maka dapat dikatakan semakin tinggi juga tingkat kesejahteraan rakyatnya. Namun, sesungguhnya pendapatan nasional suatu Negara tidak dapat sepenuhnya dijadikan sebagai indikator naiknya tingkat kesejahteraan rakyat di suatu Negara. Sebagai contoh, meskipun pendapatan nasional Indonesia pada tahun 2010 naik dari tahun sebelumnya, tetapi tetap saja masih (sangat) banyak rakyat Indonesia yang sampai saat ini hidup di bawah garis kemiskinan

B. Konsep Pendapatan Nasional

Berikut adalah beberapa konsep pendapatan nasional

1. Produk Domestik Bruto (GDP)

Produk domestik bruto (Gross Domestic Product) merupakan jumlah produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh unit-unit produksi di dalam batas wilayah suatu negara (domestik) selama satu tahun. Dalam perhitungan GDP ini, termasuk juga hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh perusahaan/orang asing yang beroperasi di wilayah negara yang bersangkutan. Barang-barang yang dihasilkan termasuk barang modal yang belum diperhitungkan penyusutannya, karenanya jumlah yang didapatkan dari GDP dianggap bersifat bruto/kotor. Berikut adalah cara menghitung GDP :

GDP = Pendapatan Masyarakat DN (dalam negeri) + Pendapatan Asing DN

Dalam perhitungan GDP, barang atau jasa yang dihasilkan oleh perusahaan maupun instansi asing terkait juga termasuk, asalkan wilahnya masih dalam wilayah suatu negara atau domestik tersebut. Misalnya ada perusahaan X dari Jerman yang mempunyai cabang di Indonesia, barang atau jasa yang dihasilkannya termasuk ke dalam GDP. Barang yang dihasilkan termasuk modal yang belum diperhitungkan, maka bersifat bruto atau kotor.

2. Produk Nasional Bruto (GNP)

Produk Nasional Bruto (Gross National Product) atau PNB meliputi nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama satu tahun. Termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri, tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah negara tersebut. Berikut adalah cara menghitung GNP : 

GNP = Pendapatan WNI DN + Pendapatan WNI LN (luar negeri) – Pendapatan Asing DN

3. Produk Nasional Netto (NNP)

Penyusutan adalah penggantian barang modal dengan peralatan produksi yang dipakai dalam proses produksi. Biasanya bersifat taksiran, yang dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan meskipun relatif keci. Berikut adalah cara menghitung NNP : 

NNP = GNP – depresiasi (penyusutan barang modal)

Penyusutan adalah penggantian barang modal dengan peralatan produksi yang dipakai dalam proses produksi. Biasanya bersifat taksiran, yang dapat menyebabkan terjadinya kekeliruan meskipun relatif keci.

4. Pendapatan Nasional Neto (NNI)

Pendapatan Nasional Neto (Net National Income) adalah pendapatan yang dihitung menurut jumlah balas jasa yang diterima oleh masyarakat sebagai pemilik faktor produksi. Besarnya NNI dapat diperoleh dari NNP dikurang pajak tidak langsung. Yang dimaksud pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak penjualan, pajak hadiah, dll. Berikut adalah cara menghitung NNI :

NNI = NNP – Pajak Tidak Langsung

Pajak tidak langsung adalah pajak yang bebannya dapat dialihkan kepada pihak lain seperti pajak hadiah, pajak penjualan, dan lain-lain.

5. Pendapatan Perseorangan (PI)

Pendapatan perseorangan (Personal Income)adalah jumlah pendapatan yang diterima oleh setiap orang dalam masyarakat, termasuk pendapatan yang diperoleh tanpa melakukan kegiatan apapun. Pendapatan perseorangan juga menghitung pembayaran transfer (transfer payment). Transfer payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi tahun ini, melainkan diambil dari sebagian pendapatan nasional tahun lalu, contoh pembayaran dana pensiunan, tunjangan sosial bagi para pengangguran, bekas pejuang, bunga utang pemerintah, dan sebagainya. Untuk mendapatkan jumlah pendapatan perseorangan, NNI harus dikurangi dengan pajak laba perusahaan (pajak yang dibayar setiap badan usaha kepada pemerintah), laba yang tidak dibagi (sejumlah laba yang tetap ditahan di dalam perusahaan untuk beberapa tujuan tertentu misalnya keperluan perluasan perusahaan), dan iuran pensiun (iuran yang dikumpulkan oleh setiap tenaga kerja dan setiap perusahaan dengan maksud untuk dibayarkan kembali setelah tenaga kerja tersebut tidak lagi bekerja). Berikut adalah cara menghitung PI :

PI = NNI – Pajak Perusahaan – Iuran – Laba Ditahan + Transfer Payment

Transfer Payment adalah penerimaan-penerimaan yang bukan merupakan balas jasa produksi, melainkan diambil sebagian dari pendapatan nasional tahun lalu. Seperti pembayaran dana pensiunan, tunjangan pengangguran, dan sebagainya.

6. Pendapatan yang siap dibelanjakan (DI)

Pendapatan yang siap dibelanjakan (Disposable Income) adalah pendapatan yang siap untuk dimanfaatkan guna membeli barang dan jasa konsumsi dan selebihnya menjadi tabungan yang disalurkan menjadi investasi. Disposable income ini diperoleh dari personal income (PI) dikurangi dengan pajak langsung. Pajak langsung (direct tax) adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, artinya harus langsung ditanggung oleh wajib pajak, contohnya pajak pendapatan. Berikut adalah cara menghitung DI :

DI = PI – Pajak Langsung

Pajak langsung adalah pajak yang bebannya tidak dapat dialihkan kepada pihak lain, seperti pajak pendapatan.

C. Perhitungan Pendapatan Nasional

Pendapatan nasional dapat dihitung dengan cara tiga pendekatan, yaitu:

1. Pendekatan pendapatan,

dengan cara menjumlahkan seluruh pendapatan (upah, sewa, bunga, dan laba) yang diterima rumah tangga konsumsi dalam suatu negara selama satu periode tertentu sebagai imbalan atas faktor-faktor produksi yang diberikan kepada perusahaan, metode pendekatan pendapatan ini bisa di hitung dengan rumus sebagai berikut.

Y = R+W+I+P


Keterangan:
Y : Pendapatan Nasional.
R : rent (sewa)
W : wage (upah/gaji)
i : increst (bunga)
P : profit (laba)

2. Pendekatan Pengeluaran

Pendekatan pengeluaran, dengan cara menghitung jumlah seluruh pengeluaran untuk membeli barang dan jasa yang diproduksi dalam suatu negara selama satu periode tertentu. Perhitungan dengan pendekatan ini dilakukan dengan menghitung pengeluaran yang dilakukan oleh empat pelaku kegiatan ekonomi negara, yaitu: Rumah tangga (Consumption), pemerintah (Government), pengeluaran investasi (Investment), dan selisih antara nilai ekspor dikurangi impor. pendekatan ini bisa ditulis dengan rumus sebagai berikut.

Y = C+I+G+(X-M)

Keterangan:
Y : Pendapatan nasional
C : konsumsi masyarakat
I : Investasi
G : Pengeluaran pemerintah
X : Ekspor
M : Impor

3. Pendekatan Produksi

Pendekatan produksi, dengan cara menjumlahkan nilai seluruh produk yang dihasilkan suatu negara dari bidang industri, agraris, ekstraktif, jasa, dan niaga selama satu periode tertentu. Nilai produk yang dihitung dengan pendekatan ini adalah nilai jasa dan barang jadi (bukan bahan mentah atau barang setengah jadi). Pendekatan ini bisa dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut.

Y = (PXQ)1+(PXQ)2+(PXQ)n

Keterangan :
Y : Pendapatan nasional
P : Harga
X : Kuantitas

D. Rumus menghitung pertumbuhan ekonomi

Pertumbuhan ekonomi disuatu negara bisa diukur dengan rumus sebagai berikut.

g = {(PDBs – PDBk)} × 100%

Keterangan :
g = tingkat pertumbuhan ekonomi
PDBs = PDB riil tahun sekarang
PDBk = PDB riil tahun kemarin

Contoh soal :
PDB Indonesia tahun 2008 = Rp. 467 triliun, sedangkan PDB pada tahun 2007 adalah = Rp. 420 triliun. Maka berapakah tingkat pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008 jika diasumsikan harga tahun dasarnya berada pada tahun 2007 ?

jawab : g = {(467-420)}x100%} = 11,19%

E. Manfaat Perhitungan Pendapatan Nasional

Bila data pendapatan nasional diketahui, maka akan memberikan dampak bagi kondisi perekonomian dalam suatu Negara. Berikut ini beberapa dampak diketahuinya pendapatan nasional bagi kondisi perekonomian dalam negeri :
  • Dengan mengetahui data pendapatan nasional, pemerintah dapat menelaah kembali struktur perekonomian yang kemudian dapat dijadikan bahan untuk membuat kebijakan guna meningkatkan kondisi perekonomian di negara ini.
  • Dengan data pendapatan nasional, pemerintah dapat mengetahui tingkat penyebaran pendapatan yang kurang merata antar daerah, dengan begitu pemerintah dapat membuka lapangan kerja baru di daerah yang berpendapatan rendah dengan tujuan mengurangi pengangguran dan kemiskinan serta pendapatan antar daerah juga akan lebih merata. Sehingga kondisi perekonomian di negara ini dapat ditingkatkan.
  • Dengan data pendapatan nasional, pemerintah dapat menentukan besarnya kontribusi berbagai sektor perekonomian terhadap pendapatan nasional. Maksudnya, pemerintah dapat meningkatkan sektor-sektor tertentu yang kurang memberikan kontribusi bagi pendapatan nasional agar dapat lebih berkontribusi terhadap pendapatan nasional untuk masa yang akan datang, serta dapat menentukan sektor mana saja yang menjadi andalan untuk meningkatkan pendapatan nasional.
  • Dengan data pendapatan nasional, pemerintah dapat membandingkan kemajuan perekonomian dari waktu ke waktu, sehingga dapat dijadikan sebagai landasan perumusan kebijakan untuk meningkatkan kondisi perekonomian di negara ini untuk masa yang akan datang.

Semua hal di atas bermuara pada satu tujuan bersama yaitu peningkatan kondisi perekonomian negara ini dan peningkatan kesejahteraan rakyat. Semoga dengan segala perbaikan yang akan dilakukan pemerintah, negara kita dapat meningkatkan pendapatan nasionalnya di masa yang akan datang dan diikuti dengan kenaikan tingkat kesejahteraan rakyat.

F. Faktor-faktor yang Mempegaruhi Pendapatan Nasional

1. Permintaan dan penawaran agregat

Permintaan agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan permintaan terhadap barang-barang dan jasa sesuai dengan tingkat harga. Permintaan agregat adalah suatu daftar dari keseluruhan barang dan jasa yang akan dibeli oleh sektor-sektor ekonomi pada berbagai tingkat harga, sedangkan penawaran agregat menunjukkan hubungan antara keseluruhan penawaran barang-barang dan jasa yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan dengan tingkat harga tertentu.

Jika terjadi perubahan permintaan atau penawaran agregat, maka perubahan tersebut akan menimbulkan perubahan-perubahan pada tingkat harga, tingkat pengangguran dan tingkat kegiatan ekonomi secara keseluruhan. Adanya kenaikan pada permintaan agregat cenderung mengakibatkan kenaikan tingkat harga dan output nasional (pendapatan nasional), yang selanjutnya akan mengurangi tingkat pengangguran. Penurunan pada tingkat penawaran agregat cenderung menaikkan harga, tetapi akan menurunkan output nasional (pendapatan nasional) dan menambah pengangguran.

2. Konsumsi dan tabungan

Konsumsi adalah pengeluaran total untuk memperoleh barang-barang dan jasa dalam suatu perekonomian dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun), sedangkan tabungan (saving) adalah bagian dari pendapatan yang tidak dikeluarkan untuk konsumsi. Antara konsumsi, pendapatan, dan tabungan sangat erat hubungannya. Hal ini dapat kita lihat dari pendapat Keynes yang dikenal dengan psychological consumption yang membahas tingkah laku masyarakat dalam konsumsi jika dihubungkan dengan pendapatan.

3. Investasi

Investasi, atau secara lebih spesifik investasi domestik swasta bruto, adalah belanja pada barang kapital baru dan tambahan untuk persediaan.
Contohnya : bangunan dan mesin baru yang dibeli perusahaan untuk menghasilkan barang dan jasa. Pengeluaran untuk investasi merupakan salah satu komponen penting dari pengeluaran agregat.


G. komponen-komponen pendapatan nasional

Komponen pendapatan nasional dapat dilihat dari pendekatan perhitungannya. Pada pembahasan ini kita akan melihat komponen pendapatan nasional atas dasar pendekatan pendapatan dan pengeluaran.

1. Komponen atas dasar pendekatan pendapatan
  • Kompensasi untuk bekerja (compensation for employees)
  • Keuntungan perusahaan (corporate profit)
  • Pendapatan usaha perorangan (sole proprietor’s income)
  • Pendapatan sewa (rental income of person)
  • Bunga neto (net interesr)
2. Komponen atas dasar pendekatan pengeluaran
  • Pengeluaran konsumsi rumah tangga
  • Pengeluaran investasi
  • Tabungan
  • Pengeluaran pemerintah untuk barang dan jasa
  • Ekspor neto

H. Pengertian Pendapatan Perkapita

pendapatan perkapita merupakan sebuah tolak ukur untuk melihat kesejahteraan dan pembangunan di sebuah negara. Sering disebut juga sebagai pendapatan rata-rata penduduk di suatu negara. Pendapatan perkapita ini juga merefleksikan PDB per kapita. Oleh karena itu, baik pendapatan nasional maupun perkapita keduanya memiliki keterikatan yang kuat.

PDB atau Produk Domestik Bruto yang disebutkan sebelumnya, juga bisa dijadikan salah satu alat untuk mencari pendapatan nasional. Di mana dalam bidang ekonomi PDB ini merupakan nilai pasar semua barang dan jasa yang diproduksi oleh suatu negara pada periode tertentu. Untuk itulah, PDB ini juga memiliki hubungan yang berkaitan erat dengan pendapatan perkapita.

I. Kegunaan Pendapatan Perkapita

Sebagai indikator ekonomi yang mengukur tingkat kemakmuran penduduk suatu negara, pendapatan per kapita di hitung secara berkala (Periodik) biasanya satu tahun. Manfaat dari perhitungan pendapatan perkapita antara lain adalah sebagai berikut :
  • Untuk melihat tingkat perbandingan kesejahteraan masyarakat suatu negara dari tahun ke tahun.
  • Sebagai data pebandingan kesejahteraan suatu negara dengan negara lain. Dari pendapatan per kapita masing – masing negara dapat di lihat tingkst kesejahteraan tiap negara.
  • Sebagai perbandingan tingkat standar hidup suatu negara dengan negara lainnya. Dengan mengambil dasar pendapatan perkapita dari tahun ke tahun, dapat di simpulkan apakah pendapatan per kapita suatu negara rendah (bawah), sedang atau tinggi.
  • Sebagai data untuk mengabil kebijakan di bidang ekonomi. Pendapatan per kapita dapat di gunakan sebagai bahan pertimbangan untuk mengambil langkah di bidang ekonomi.

J. Perhitungan Pendapatan Perkapita

Berikut ini adalah dua metode yang biasa digunakan:
  • Pertama, berdasarkan harga yang sedang berlaku atau disebut juga dengan pendapatan per kapita nominal.
  • Kedua, berdasarkan harga tetap (konstan) diambil dari tahun acuan atau disebut juga dengan pendapatan per kapita riil.
Seperti yang telah kita ketahui sebelumnya, bahwa pendapatan per kapita merupakan pendapatan rata-rata dari masyarakat. Pendapatan rata-rata ini bisa dicari dengan membagi antara pendapatan nasional dengan jumlah penduduk di sebauh negara.

Pendapatan nasional yang dimaksudkan di sini adalah Produk Nasional Bruto (PNB) atau Gross National Product (GNP) produk ya! Karena, PNB ini akan berbeda dengan PDB karena PNB memasukkan pendapatan faktor produksi dari luar negeri. Sedangkan PDB hanya menghitung total produksi suatu negara tanpa memperhitungkan apakah produksi tersebut dilakukan dengan memakai faktor produksi dalam negeri ataukah tidak.

PNB sendiri merupakan nilai produk berupa barang dan jasa yang dihasilkan oleh penduduk suatu negara (nasional) selama kurun satu tahun. Ini termasuk hasil produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh warga negara yang berada di luar negeri. Tetapi tidak termasuk hasil produksi perusahaan asing yang beroperasi di wilayah tersebut.

# Penghitungan Pendapatan Perkapita Nominal

Cara pertama ini bisa dilihat dari Produk Nasional Bruto berdasarkan harga yang sedang berlaku. Contohnya bisa kamu lihat pada penjelasan di bawah ini:

Di sebuah negara, angka Gross National Product (GNP) pada tahun 2019 ini adalah adalah 1.300.567 miliar, dengan Jumlah penduduk di tahun yang sama sebanyak 262.000.000 juta jiwa. Berapakah nilai Pendapatan Perkapita negara tersebut pada tahun 2019 ini?
Dengan menggunakan rumus

Pendapatan Per Kapita (PPK) = GDP harga yang berlaku : Jumlah penduduk

Maka, nilai pendapatan perkapita nominal yang dimiliki oleh negara tersebut pada tahun 2019 adalah

PPK = 1.300.567 milyar : 262.000.000
= 0.0049639961832061 atau
PPK = Rp 4.963.996 juta

# Penghitungan Pendapatan Perkapita Riil

Di sebuah negara, angka Gross National Product (GNP) pada tahun dasar 2010 ini adalah adalah 400.000 miliar, Sedangkan angka GDP untuk tahun 2019 adalah 1.300.567 miliar dan jumlah penduduknya sebanyak 262.000.000 juta jiwa. Berapakah nilai Pendapatan Perkapita jika dilihat berdasarkan harga konstannya?

Karena yang diminta merupakan pendapatan berdasarkan harga konstan, maka kita bisa menggunakan GDP tahun 2010 yang dijadikan tahun dasar.

Kita bisa mendapatkan pendapatan perkapitanya dengan menggunakan rumus

Pendapatan Per Kapita (PPK) = PNB Harga konstan : Jumlah penduduk

Maka, nilai pendapatan perkapita nominal yang dimiliki oleh negara tersebut berdasarkan tahun dasar 2010 adalah:

PPK = 400.000 miliar : 262.000.000
= 0.0015267175572519 miliar
PPK = 1.526.717 juta

Sehingga dari perhitungan di atas dapat disimpulkan bahwa pada tahun 2019, pendapatan per kapita nominal sebesar 4.963.996 juta dengan pendapatan riil adalah 1.526.717 juta. Dengan kata lain, pendapatan nominalnya, tiga kali lebih besar daripada pendapatan riilnya. Hal ini atau jumlah pendapatan per kapita nominal sekitar tiga kali lebih besar jumlah nya daripada pendapatan per kapita riil.

Lihat Materi Lainnya : " Materi Ekonomi Pembangunan Lengkap "

Sekian artikel kali ini mengenai "Ekonomi Pembangunan: Pertumbuhan dan Pembangunan Ekonomi" Semoga artikel ini bisa bermanfaat bagi sobat sekalian, jangan lupa di Like & Share, dan kunjungi terus ROLIYAN.COM untuk mendapatkan berbagai macam topik dan informasi menarik lainnya !!!

0/Post a Comment/Comments

Postingan Terbaru

Recent Posts